Ust. Ade Ramansyah: Educate With Love And Heart

Masih teringat dalam fikiran, terngiang ditelinga dan terpaku dalam qolbu sebuah amanah yang disampaikan oleh Ketua YPI Al Multazam Husnul khotimah, KH. Abdul Rosyid, Lc.M.Ag dalam sebuah acara kebersamaan (coffee morning). Dengan indah beliau menyampaikan kunci kesuksesan lembaga ini adalah “ ketika setiap individu semuanya beramal dengan disiplin dan ikhlas “

“Yakni ikhlas di awal, ikhlas di tengah dan ikhlas di akhir…”

Pembaca yang budiman, Setiap generasi mempunyai tantangan dan kekhasannya masing-masing. Disana ada perjuangan yang harus terus dipupuk, karna jika kita  terlepas dan keluar dari koridor syariat islam maka kerusakan, kerugian dan masa depan generasi yang tidak bisa di pertanggung jawabakan. Bagi seorang pendidik ada hal  yang menarik ketika kita berkontribusi mendidik sepenuh hati karna sesungguhnya kita sedang mempersiapkan masa tua kita dengan lebih baik dan disaat itu pula kita sedang mempersiapkan keturunan-keturunan kita yang lebih baik sebagai pemegang peradaban di masanya kelak.

Kenapa harus di bidang pendidikan ?

Pendidikan merupakan unsur pokok dalam menyiapkan generasi yang akan membawa  dan meneruskan nilai sebuah peradaban. Pendidikan merupakan salah satu cara tepat untuk memperbaiki akhlak setiap generasi. Pendidikan merupakan kebutuhan dasar yang harus dipenuhi untuk menjadi bekal dimasa yang akan datang.

Pendidikan erat kaitannya dengan proses belajar mengajar yang dilakukan oleh guru dan murid, walaupun pada dasarnya diluar itu pendidikan juga bisa didapatkan dengan belajar secara otodidak dan belajar dari pengalaman.

“ Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari apai neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkann” ( At Tahrim : 6)

Mendidik dan mengajarkan ilmu merupakan kewajiban setiap muslim, mendidik serta mengajar merupakan tugas Nabi dan Rasul.

“ Ya Tuhan kami utuslah ditengah mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri yang akan membacakan kepada mereka  ayat-ayat-Mu dan mengajarkan kitab dan hikmah kepada mereka dan mensucikan mereka, Sungguh Engkaulah yang maha perkasa lagi Maha bijaksana ( Al-baqarah : 129)

Berdasarkan ayat diatas , mendidik mencakup tiga unsur yaitu : Tilawah (membacakan), Ta’lim (Mengajarkannya) dan Tazkiyah (Mensucikan jiwa)

Ikhlas dalam mendidik

Hendaklah seorang pendidik sadar bahwa dirinya sedang memerankan tugas yang agung yakni tugasnya para Nabi dan Rasul.  Menghadirkan pada diri pendidik  bahwa mengemban tugas dan tanggungjawab  untuk menunjukan jalan yang lurus dan menjauhkan dari kesesatan merupakan salah satu amalan yang paling utama. Dibutuhkan keikhlasan yang total dan istiqomah, tidak mengaharapkan dari aktifitasnnya imbalan materi dunia semata.

“Dan sekali-kali aku tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam” (Asy-syura : 127)

Mendidik merupakan bentuk taqorrub (mendekatkan diri) kepada Allah. Dengan ibadah itu kita mengharap pahala dan balasan dari-Nya. Sedangkan amalan yang diterima oleh Allah adalah yang niatnya ikhlas dan jauh dari syirik. Ikhlas itu amalan hati yang paling berat dilakukan seorang manusia. Kecuali bagi orang-orang yang beriman yang diberikan kemudahan oleh Allah dalam semua kebaikan. Begitu juga penyimpangan dalam hal niat akan menodai kesucian ibadah, Riya atau terselipnya niat keinginan duniawi pada amal ibadah yang dikerjakan manusia merupakan salah satu yang akan merusak amal kebaikan seorang hamba.

“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasan, niscaya kami berikan kepada mereka balasan amal perbuatan mereka didunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Merekalah orang-orang yang diakhirat (kelak) tidak memperoleh (balasan) kecuali neraka dan lenyaplah apa (amal kebaikan) yang mereka ushakan didunia dan sia-sialah apa yang telah mereka lakukan” (Huud : 15-16)

Pengaruh keihlasan dalam mendidik

Seseorang yang beramal dengan ikhlas maka dia tidak mengaharapkan dari pekerjaannya itu kecuali Allah semata, Sehingga Ia pun tidak akan merasa bangga terhadap pujian dan sebaliknya Ia tidak akan bersedih jika seandainnya pekerjaan itu tidak diakui atau bahkan diklaim oleh orang lain. Keikhlasan seorang pendidik dalam aktifitasnnya memiliki dampak yang besar dalam keberhasilan sebuah pendidikan. Dampak itu yang akan kembali kepada lembaga pendidikan itu sendiri atau kepada peserta didiknya.  Suksesnya sebuah pendidikan bukan semata-mata dilihat dari cemerlangnnya otak dari siswa. Namun suksesnnya pendidikan itu juga dilihat dari sisi akhlak dan kepribadian para siswa. Hasil akhir ini bisa didapatkan  jika seorang pendidik ikhlas, jiwa yang bersih, kecintaan, keteladanan dalam memberikan apa yang ia miliki untuk anak didiknya.

Sebagaimana perkataan hasan al basri :

“ Sesuatu yang keluar dari hati akan sampai ke dalam hati, akan tetapi yang keluar dari lisan (hanya bibir saja) maka ia tidak akan melampaui telinga.”

Pendidik Idaman

Ada banyak adab yang kiranya perlu diperhatikan  para guru, diantaranya :

1.    Ikhlas mencari ridho Allah

“Tiga hal pengusir galau dari hati seorang muslim, ikhlas beramal hanya karna Allah, komitmen dengan dengan arahan para pemimpin kaum muslimin dan melazimi jama’ah mereka. (HR. Abu daud, Tirmidzi dan yang lainya)

2.    Menjadi teladan utama dalam amal dan akhlak

“ Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya taurat kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim” (QS. Al Jumuah : 5)

3.    Meghiasi diri dengan muraqabatullah

“ Hai Orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu menghianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu sedangkan kamu mengetahuinya” (QS. Al Anfal : 27)

4.    Tetap semangat meski murid belum sepenuh hati

“ Kami mencari ilmu untuk selain Allah, Ilmu itu enggan dan hanya karena Allah”

Sebagian ulama menjelaskan ungkapan diatas, bahwa ilmu itu di tujukan akhirnya adalah ikhlas karena Allah (meski awalnya tidak). Bila para pemula harus dipaksa ikhlas dan serius sejak awal, ini menyulitkan dan menjadikan ilmu sia-sia. Nah disinilah peran utama seorang guru untuk membangkitkan semangat dan gairah para siswa untuk menuntut ilmu.

5.    Tegas namun tetap santun

“Perintahkanlah anakmu untuk sholat saat usianya telah mencapai tujuh tahun, pukullah mereka saat usia mereka telah sepuluh tahun bila mereka enggan melaksanakannya” (HR. Abu daud. Hasan)

 

IKHLAS…Demikian salah satu kunci sukses dalam mendidik dan menciptakan generasi pemegang peradaban. Selamat beramal wahai saudaraku. Semoga amanah yang di emban melahirkan keberkahan. Aamiin

Wallahu’alam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *