Tidak Masuk Final bukan Berarti Gagal

Tidak Masuk Final bukan Berarti Gagal

Kegagalan adalah hal biasa, kesuksesan memang SMAIT punya. Namun tidak masuknya tim debat ke babak final bukan berarti mereka gagal mempersembahkan piala dan mengharumkan nama sekolah, melainkan inilah bukti keberhasilan dan kesuksesan yang mereka raih selama menjadi tim debatnya SMAIT Al-Multazam. Mereka tetap bertahan, mau belajar, dan terus berliterasi mencari segala informasi di tengah kesibukan menghadapi ujian sekolah dan kegiatan lainnya.

M. Faqih Gibran, sosok santri yang tidak pernah menyerah, selalu memperlihatkan semangat belajar mulai kelas X dan saat kami mengenalnya pertama kali mengikuti debat. Mulai dari malu-malu, terbata-bata, sampai pada keberhasilannya mengambil hati para juri di beberapa pertandingan debat. Kelancarannya dalam berbicara, sistematika dalam menyampaikan argumen, dan kelengkapan data sebagai referensi opini yang dia gunakan, membuat Faqih dinobatkan sebagai pembicara terbaik dari sepuluh besar pembicara terbaik se-Kabupaten Kuningan tahun 2018.

Nauval Thoriq atau lebih dikenal OPANK, sosok santri yang ‘cool’ tapi keseriusan terpancar dalam gerak gerik tingkah laku serta ekspresi wajahnya. Di balik sikap dinginnya tersimpan semangat tinggi tuk raih mimpi yang diinginkan. Kelancaran, ketepatan, kelengkapan data, dan ketegasan dalam menyampaikan argumennya membuat siapa saja yang melihat, mendengar aksinya, pasti berdecak kagum. Masya Allah… Di benak santri yang satu ini tersimpan literasi penuh memori ilmu pengetahuan.

Pernah suatu ketika dia diminta menjelaskan terkait penciptaan alam menurut buku tebal yang sudah dibacanya. Penjelasan begitu jelas penuh ilustrasi bak seorang dosen membuat kami terpesona dengan apa yang sudah disampaikan. Debat kemarin di acara Aresta menjadi debat terakhir selama dia bersekolah di SMAIT Al-Multazam. Semoga di perkuliahan nanti setelah lulus SMA, Nauval bisa melanjutkan bakatnya terkhusus di dunia perdebatan, tentunya debat wawasan.

Hanif Musyaffa, santri yang satu ini menjadi tim debat dalam satu tim bersama Faqih dan Opank semenjak kelas X. Sudah lama mereka gabung dalam satu tim kompak dan saling melengkapi diantara ketiganya. Pembawaannya yang adem, tenang, menjadikan penampilannya dalam berargumen ditunggu oleh para kaum hawa. Wawasannya pun tak kalah luas dengan kedua rekan debatnya. Sekarang dia masih duduk di kelas XI IPS, sementara kedua rekannya, Faqih dan Nauval sudah kelas XII, bahkan beberapa bulan mendatang akan segera lulus dari pondok.

Kedepannya semoga ada penerus Faqih dan Nauval untuk menemani Hanif dalam tim debat SMAIT Al-Multazam, sehingga tim debat SMAIT tetap menjadi tim debat yang diperhitungan di Kabupaten Kuningan. Semoga (WW)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *