Sampah, Berkah atau Musibah ?

ilustrasi : pengangkutan sampah di Ponpes Terpadu Al-Multazam 2

Al-Multazam 2 – Bicara tentang sampah, semua pasti berpikir sesuatu yang kotor, jijik bahkan sumber penyakit. Maka tak heran jika semua ingin menjauhkan sampah dari kehidupan sehari-hari. Berbagai program dibuat oleh banyak kepala daerah untuk mengurus sampah tersebut. Sebagian besar sampah hasil dari kehidupan sehari-hari dikumpulkan, dipindahkan hingga ditimbun di suatu tempat khusus hingga menggunung.

Namun pernahkah kita berpikir, seberapa banyak tempat pembuangan sampah menampung semua sampah kita? Jika satu keluarga menghasilkan rata-rata 1 kg sampah, dalam satu desa terdapat 1000 kepala keluarga, jika digabung menjadi satu kecamatan, bahkan satu kota, berapa kilo ton sampah yang dihasilkan dalam satu hari? Selain, kuantitas, sampah juga dapat dibagi menjadi berbagai kategori, salah satunya adalah sampah B3 (Bahan Beracun dan Berbahaya). Baterai misalnya. Kandungan zat beracun di dalamnya tidak bisa dibuang begitu saja.

Di negara kita, perlakuan terhadap sampah masih sebatas bagaimana cara mengumpulkan, mengedukasi masyarakat agar buang sampah pada tempatnya, sampah tidak mengakibatkan penyakit dan banjir, tapi belum pada bagaimana mengolah sampah agar tidak mencemari lingkungan.
Sampah yang kita kenal dapat dibedakan menjadi 2 bagian, yakni sampah organik dan sampah anorganik. Sampah organik merupakan sampah yang berasal dari makhluk hidup seperti buah, sayur, daging, susu, dan lain-lain. Sedangkan sampah anorganik merupakan sampah yang bukan berasal dari makhluk hidup seperti plastik, logam, jaca, dan lain-lain. Tak sedikit dari kita sering menyatukan kedua sampah tersebut dalam satu kantong sampah. Padahal, diperlukan perlakuan yang berbeda agar kedua jenis sampah tersebut tidak menimbulkan bencana.

Sampah organik sangat mudah terurai. Sehingga di dalam tempat sampah, sampah organik akan mudah membusuk, menghasilkan cairan dan bau yang tidak sedap. Beberapa hasil pembusukan sampah organik menghasilkan gas metana yang dapat merusak ozon. Selain itu, pembusukan dapat menimbulkan meningkatnya perkembangbiakan bakteri dan virus penyakit yang tersebar melalui lalat dan serangga lainnya.

Sampah anorganik tidak kalah berbahaya. Sampah anorganik yang paling sering ditemui adalah plastik. Meskipun plastik dikenal dengan senyawa yang tidak mudah terurai, namun nyatanya plastik yang sering terkena panas dan hujan akan sedikit terurai menjadi partikel-partikel plastik yang berukuran sangat kecil dan larut dalam air yang dikenal dengan mikropastik. Dikutip dari detik.com sebuah studi baru dan ppertama kali dilakukan oleh medical University of Vienna di Austria, manusia menelan sebanyak 50.000 keping plastik per tahun. Mikroplastik tersebar di berbagai tempat baik larut dalam air tawar di darat, bahkan sampai berada dalam daging ikan di laut.

Jika kita pegiat dunia pendidikan masih sibuk mengedukasi anak didik untuk membuang sampah pada tempatnya, maka itu sungguh sudah sangat tertinggal. Masalah sampah tidak selesai hanya dengan membuang sampah pada tempatmya, melainkan harus sudah menuju ranah cara memperlakukan dan mengolah sampah agar tidak mencemari lingkungan.

Di satu sisi, sampah bisa dikatakan sebagai musuh yang mengerikan, di sisi lain sampah bisa dijadikan peluang besar. Seperti yang dilakukan seorang warga di argasunya Cirebon. Beliau dapat menghasilkan sekitar 400 kantong kompos yang dapat dipasarkan ke berbagai tempat hingga jawa tengah dan jabodetabek. Tidak kalah dengan cirebon, kelompok tani Mekar Jaya di Jambi dapat menghasilkan 1.000 ton kompos dari hasil pengolahan limbah kotoran sapi dengan omset kurang lebih dari Rp. 1 Miliar per bulan. Dan masih banyak lagi pegiat lingkungan lain yang dapat memperoleh manfaat dari sampah.

Sampah anorganik memiliki prospek yang lebih bagus lagi. Selain pengelolaan yang cenderung mudah, pemasaran sampah anorganik lebih mudah lagi. Pasalnya, banyak perusahan pengolahan limbah plastik dan lainnya di Indonesia sering menginpor sampah dari luar negeri. Dikutip dari laman merdeka.com, Haji Ali sebagai pengelola rongsok (barang berkas) atau limbah anorganik di jakarta dapat mencapai omset hingga Rp. 150 – 300 juta per bulan.

Peluang ini juga dimanfaatkan oleh beberapa aktivis lingkungan untuk membuat bank sampah. Dikutip dari buku panduan bank sampah unilever, Bank sampah Wahana di medan telah berhasil mencapai omset Rp. 1.100.000 per bulan. Bank Sampah Malaka Sari di Jakarta, mencapai omset hingga Rp. 5.000.000 per bulan. Atau jangan jauh-jauh, Bapak Yudi, pegawai bagian sarana telah menjadi inisiator bank sampah di desanya. Selain dapat mengurangi sampah berceceran, bank sampah juga dapat memberikan manfaat bagi warga sekitar yang mau dan peduli terhadap sampah dihasilkan.

Jadi, sampah berkah atau musibah? Tergantung bagaimana kita memperlakukannya. Perlakukan sampah dengan benar membuat sampah memberikan banyak kebermanfaatan. Namun, jika sampah hanya di buang sembarangan, maka bersiaplah mengadapi musibah yang sudah kita buat sendiri.

(Penulis : Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMPIT Al-Multazam 2, Asep Nurudin, S.Pd.)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *