Praktik ‘ala’ Santri Terapkan Sebuah Teori

Praktik ‘ala’ Santri Terapkan Sebuah Teori

Praktik merupakan suatu kegiatan yang menyenangkan bagi peserta didik. Selain menyenangkan, dari kegiatan praktik, peserta didik akan merasakan manfaat sebuah materi dan setidaknya mempunyai pengalaman dari materi yang didapatkan selama belajar, sehingga yang tumbuh di benak mereka bukan sekadar hafal teori, melainkan memahami lebih dalam teori yang di dapatkan dari proses pembelajaran.

Dalam dunia pendidikan, pada kurikulum 2013, setiap materi pembelajaran diharuskan menerapkan teori melalui praktik atau praktikum. Jika yang didapatkan peserta didik selama ini hanya teori dan teori tanpa aplikasi dalam bentuk praktik, maka yang ada hanya rasa jenuh karena mereka seharian harus mendengarkan teori/materi pembelajaran dari guru. Selain itu kebermanfaatan dari sebuah teori tidak akan terasa jika materi atau teori yang diajarkan tidak divisualkan dalam bentuk praktik. Maka jika hal ini terjadi, terkadang adanya penyepelean materi pembelajaran di kelas yang ditunjukan peserta didik. Jangankan materi yang tidak ada praktikumnya, materi yang sudah jelas ada praktiknya juga terkadang disepelekan dan dianggap penting tidak penting. Berdasarkan hal tersebut, kebermanfaatan sebuah materi atau teori yang diajarkan seorang guru kepada siswanya akan terasa manakala setiap materi tidak hanya diajarkan, tetapi lebih pada dipraktikan.

Ada hal unik ketika santri kelas XII IPA SMAIT Al-Multazam membuat sebuah produk makanan berupa es krim hasil dari penerapan ilmu kimia. Dengan bahan dan alat seadanya melalui bimbingan Ustadzah Marwi, pembuatan es krim pun berhasil. Bahkan beberapa kelompok memvariasikan hasil olahan mereka dengan pemberian penambahan hiasan untuk mempercantik tampilan es krim yang mereka buat. Rasa penasaran kami terkait ada hubungan apa antara es krim dengan pelajaran Kimia, kami tanyakan ke beberapa santri kelas XII IPA, alhasil, dengan lancar mereka menjelaskan kaitan produk es krim yang mereka hasilkan dengan pelajaran teori ilmu Kimia. Selain santri XII IPA, kami pun melihat praktik di kelas XII IPS pada pelajaran sosiologi. Di bawah bimbingan Ustadzah Yusi, mereka mencoba menerapkan gabungan tiga pelajaran dalam satu kali praktik yakni materi Sosiologi, Kewirausahaan, dan Ekonomi. Melalui materi Sosiologi tentang
“Pengembangan Sumberdaya Lokal dalam Menghadapi Tantangan Globalisasi dan Pengembangan serta
Pengemasan Makanan Tradisional Agar dapat Bersaing dengan Makanan Barat”, menantang kreativitas santri dalam membuat olahan makanan dari bahan tradisional tersebut. Mulai dari membeli bahan, menghitung pengeluaran, mengolah menjadi beberapa jenis makanan, kemudian mereka jual, dan menghitung pemasukan dari produk makanan yang mereka jual ke santri juga guru di area pondok. Hasilnya, ternyata banyak santri yang menyukai produk makanan yang mereka olah, sehingga antara pengeluaran dan pemasukan seimbang bahkan hasilnya lebih dari pengeluaran. Sebenarnya mereka juga tidak mengambil untung dari makanan yang dijual. Dengan harga murah dari mulai Rp 1000 hingga Rp 3000/5000, hasil produk makanan yang mereka olah pun habis laku terjual. Selain harga yang sangat terjangkau, juga rasa yang tidak kalah saing dengan makanan luar. Semua bahan, alat mereka sendiri yang membeli dan menyediakan, maka ketika beberapa kelompok diwawancara, bak Master pemasak profesional, mereka menjawab setiap pertanyaan dengan jelas. Itu artinya, teori yang sudah mereka praktikan lebih mudah dipahami daripada hanya sekadar teori tanpa praktikum. Hal ini pun senada dengan tulisan sebuah artikel berjudul ‘Belajar Sukses’, disebutkan bahwa prinsip belajar sukses salah satunya yaitu praktik.

“Teori tanpa praktik hanya hafalan semata tanpa pemahaman dan praktik tanpa teori sama saja bohong, kosong tanpa referensi jelas.” Dengan demikian teori dan praktik satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dalam proses pembelajaran.

16/9/2019*timliterasiSMAIT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *