Obesitas Pada Anak

Makanan Pemacu Obesitas

Makanan Pemacu Obesitas

Obesitas Pada Anak
Ditulis Oleh : Tutut Setyaastui, SKM (Dari Berbagai Sumber)

“Dahulu masyarakat bangga jika punya anak gemuk berpipi montok. Tapi saat anaknya sudah besar, (anak itu) malu, ingin kurus, tapi susah,” ujar Doddy Izwardi, Direktur Gizi Masyarakat Kemenkes.

 

Kegemukan dan obesitas terjadi akibat asupan energi lebih tinggi daripada energi yang dikeluarkan. Asupan energi tinggi  disebabkan oleh konsumsi makanan sumber energi dan lemak tinggi, sedangkan pengeluaran energi yang rendah disebabkan karena kurangnya aktivitas fisik dan  sedentary life style.

Masalah kegemukan dan obesitas di Indonesia terjadi pada semua kelompok umur dan pada semua strata sosial ekonomi. Pada anak sekolah, kejadian kegemukan dan obesitas merupakan masalah yang serius karena akan berlanjut hingga usia dewasa. Kegemukan dan obesitas pada anak berisiko berlanjut ke masa dewasa, dan merupakan faktor risiko terjadinya berbagai penyakit metabolik dan degeneratif seperti penyakit kardiovaskuler, diabetes mellitus, kanker, osteoartritis, dll. Pada anak, kegemukan dan obesitas juga dapat mengakibatkan berbagai masalah kesehatan yang sangat merugikan kualitas hidup anak seperti gangguan pertumbuhan tungkai kaki, gangguan tidur, sleep apnea (henti napas sesaat) dan gangguan pernafasan lain.

Pola makan yang merupakan pencetus terjadinya kegemukan dan obesitas adalah mengkonsumsi makanan porsi besar (melebihi dari kebutuhan), makanan tinggi energi, tinggi lemak, tinggi karbohidrat sederhana dan rendah serat. Sedangkan perilaku makan yang salah adalah tindakan memilih makanan berupa junk food, makanan dalam kemasan dan minuman ringan (soft drink).

Selain pola makan dan perilaku makan, kurangnya aktivitas fisik juga merupakan faktor penyebab terjadinya kegemukan dan obesitas pada anak sekolah. Keterbatasan lapangan untuk bermain dan kurangnya fasilitas untuk beraktivitas fisik menyebabkan anak memilih untuk bermain di dalam rumah. Selain itu, kemajuan teknologi berupa alat elektronik seperti video games, playstation, televisi dan komputer menyebabkan anak malas untuk melakukan aktivitas fisik.

Menurut WHO, obesitas sudah merupakan epidemi global dan menjadi problem kesehatan yang harus segera diatasi. Di Indonesia, perubahan gaya hidup yang menjurus ke westernisasi dan sedentary mengakibatkan perubahan pola makan masyarakat yang merujuk pada pola makan tinggi kalori, lemak dan kolesterol, sehingga berdampak meningkatkan risiko obesitas. Prevalensi obesitas pada anak meningkat dari tahun ke tahun, baik di negara maju maupun negara yang sedang berkembang. Disamping itu, obesitas pada anak berisiko tinggi menjadi obesitas di masa dewasa dan berpotensi menderita penyakit metabolik dan penyakit degeneratif di kemudian hari.

  Anak-anak, tidak seperti orang dewasa, membutuhkan nutrisi dan kalori tambahan untuk pertumbuhan dan perkembangan mereka. Jadi bila mereka mengkonsumsi kolori dalam jumlah yang cukup untuk aktivitas sehari-hari, pertumbuhan dan metabolisme mereka, maka pertambahan berat badan mereka akan seimbang dengan pertambahan tinggi badannya. Akan tetapi, anak-anak yang makan lebih banyak kalori daripada yang mereka butuhkan, akan menambah lebih banyak berat daripada tinggi badan mereka.  Pada kasus-kasus seperti ini, pertambahan berat akan meningkatkan

Obesitas terjadi disebabkan banyak faktor.Faktor utamanya adalah ketidak seimbangan asupan energi dengan keluaran energi. Di Indonesia, akibat dari perkembangan teknologi dan sosial ekonomi terjadi perubahan pola makan dari pola makan tradisional ke pola makan barat seperti fast food yang banyak mengandung kalori, lemak dan kolesterol (Mahdiah, 2004)

Obesitas  pada  anak  sampai  kini  masih merupakan masalah, hal ini disebabkan oleh etiologinya yang kompleks dan multi faktor.Penanganan obesitas anak haruslah terpadu antara semua aspek etiologi.Semakin dini pe nanganan obesitas pada anak akan memberikan hasil yang lebih  baik. Penanganan obesitas pada a nak lebih sulit dari pada obesitas dewasa. Pengaturan makan untuk penurunan berat badan anak harus memperhatikan bahwa anak masih dalam proses tumbuh dan berkembang. Anjuran makanan untuk mendapatkan berat  badan yang stabil atau  turun secara bertahap harus mencukupi keb utuhan semua zat gizi meskipun seringkali anak mempunyai jenis makanan yang disukai atau tak disukai sehingga membatasi variasi makanan yang dapat dikonsumsi (Mahdiah, 2004).

Efek makanan cepat saji terhadap tubuh yakni dapat mempengaruhi tingkat energi tubuh. Junk food tidak mengandung nutrisi yang dibutuhkan tubuh agar tetap sehat.Sebagai hasilnya, anda mungkin merasa lelah dan kekurangan energi yang anda butuhkan untuk menyelesaikan tugas sehari-hari. Tingginya tingkat gula dalam makanan cepat saji membuat metabolisme tidak terkendali, ketika  makan gula halus, pankreas mengeluarkan insulin dalam jumlah yang tinggi untuk mencegah lonjakan berbahaya dalam kadar gula darahkarena makanan cepat saji dan junk food tidak mengandung jumlah protein dan karbohidrat yang cukup dan baik, kadar gula darah akan turun secara tiba-tiba setelah makan, hal ini membuat merasa mudah marah-marah, lelah,” jelasnya. Junk food berkontribusi terhadap kinerja buruk dan obesitas, Junk food juga mengandung sejumlah besar lemak, dan sebagai lemak terakumulasi dalam tubuh. Pengkonsumsi akan bertambah berat badannya dan bisa menjadi obesitas. Berat lebih yang terjadi akan semakin mendekatkan pada risiko penyakit kronis serius seperti diabetes, penyakit jantung dan arthritis (Husein, 2012).

Dampak Negatif Makanan Cepat Saji.

 Makanan cepat saji disini tidak selalu dalam arti konsumsi makanan pokok dan minumannya, akan tetapi makanan dan minuman tambahan yang biasa dalam jajanan anak baik dilingkungan sekolah maupun rumah akan memberikan faktor kesehatan yang tidak positif bagi tumbuh dan kembang fisik maupun kecerdasan anak.

Berikut dampak dan resiko yang dihadapi anak apabila terlalu banyak mengkonsumsi makanan / jajanan cepat saji bagi kesehatannya.

  1. Meningkatkan Risiko Serangan Jantung, Kandungan kolesterol yang tinggi pada makanan cepat saji dapat mengakibatkan penyumbatan pembuluh darah. Pembuluh darah yang tersumbat akan membuat aliran darah tidak lancar yang dapat mengakibatkan terjadinya serangan jantung koroner.
  2. Membuat Ketagihan, Makanan cepat saji mengandung zat aditif yang dapat membuat ketagihan dan merangsang untuk ingin terus memakannya sesering mungkin.
  3. Meningkatkan Berat Badan, Jika suka mengonsumsi makanan cepat saji dan jarang berolahraga, maka dalam beberapa minggu tubuh akan mengalami penambahan berat badan yang tidak sehat. Lemak yang di dapat dari mengonsumsi makanan cepat saji tidak digunakan dengan baik oleh tubuh jika tidak berolahraga. Lemak inilah yang kemdian tersimpan dan menumpuk dalam tubuh.
  4. Meningkatkan Risiko Kanker, Kandungan lemak yang tinggi yang terdapat dalam makanan cepat saji dapat meningkatkan risiko kanker, terutama kanker payudara dan usus besar.
  5. Memicu Diabetes, Kandungan kalori dan lemak jenuh yang tinggi dalam makanan cepat saji akan memicu terjadinya resistensi insulin yang berujung pada penyakit diabetes. Resistensi insulin  terjadi  ketika  sel-sel  tubuh  tidak  merespon  insulin  sehingga menurunkan penyerapan glukosa yang menyebabkan banyak glukosa menumpuk di aliran darah.
  6. Memicu Tekanan Darah Tinggi. Garam dapat membuat masakan menjadi jauh lebih nikmat. Hampir semua makanan makanan cepat saji mengandung garam yang tinggi. Garam mengandung natrium, ketika kadar natrium dalam darah tinggi dan tidak dapat dikeluarkan oleh ginjal, volume darah meningkat karena natrium bersifat menarik dan menahan air. Peningkatan ini menyebabkan jantung bekerja lebih keras untuk mengalirkan darah ke seluruh tubuh yang menyebabkan tekanan darah tinggi.

 

Hal-hal yang dimungkinan terjadi bila anak terlalu banyak makan makanan cepat saji dan terindikasi obesitas adalah :

  1. Anak yang kelebihan berat badan dapat menderita masalah kesehatan yang cukup serius, seperti diabetes dan penyakit jantung, dan sering kali juga membawa kondisi ini sampai ke masa dewasanya. Anak yang kelebihan berat badan memiliki risiko yang lebih tinggi untuk menderita:
    1. Diabetes tipe 2, resisten terhadap insulin
    2. Sindrom metabolisme: kegemukan terutama di daerah perut, kadar lemak yang tinggi, tekanan darah tinggi, resistensi terhadap insulin, kerentanan terhadap terbentuknya sumbatan pembuluh darah, dan kerentanan terhadap proses peradangan (American Heart Association).
    3. Tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi dan tingkat blood lipid yang abnormal
    4. Asma dan masalah saluran pernapasan lainnya (misalnya, napas pendek yang dapat membuat olah raga, senam atau aktivitas fisik lainnya sulit untuk dilakukan) e. Masalah tidur
    5. Penyakit liver dan kantong empedu
    6. Pubertas atau menarche dini: anak yang kelebihan berat badan dapat tumbuh lebih tinggi dan secara seksual lebih matang dari anak-anak sebayanya, membuat orang-orang berharap mereka dapat berlaku sesuai dengan ukuran tubuh mereka, bukan sesuai dengan usia mereka; gadis-gadis yang mengalami kelebihan berat badan seringkali mengalami siklus menstruasi yang tidak teratur dan menghadapi masalah fertilitas pada usia dewasanya. h. Masalah makan
    7. Infeksi kulit
    8. Masalah pada tulang dan persendian
  2. Faktor risiko yang ada pada masa kanak-kanak (termasuk tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, dan diabetes) dapat menyebabkan terjadinya masalah medis saat mereka beranjak dewasa seperti penyakit jantung, gagal jantung, dan stroke. Mencegah atau menangani obesitas pada anak-anak dapat mengurangi risiko terjadinya masalah kesehatan seperti ini saat mereka dewasa.

 

Kelebihan berat juga dapat menyebabkan terjadinya masalah yang menyangkut perkembangan sosial dan emosional anak seperti:

  1. Percaya diri rendah dan rawan diganggu anak lain. Anak-anak seringkali mengganggu atau mencela kawan mereka yang kelebihan berat badan, yang seringkali mengakibatkan anak tersebut kehilangan rasa percaya diri dan meningkatkan risiko terjadinya depresi.
  2. Problem pada pola tingkah laku dan pola belajar. Anak-anak yang kelebihan berat badan cenderung lebih sering merasa cemas dan memiliki kemampuan bersosialisasi yang lebih rendah daripada anak-anak dengan berat normal.  Pada satu sisi yang ekstrim, masalahmasalah ini akan menyebabkan anak tersebut meledak dan mengganggu ruang kelas.  Pada sisi ekstrim yang lain, anak tersebut akan menarik diri dari pergaulan sosial.  Stress dan kecemasan juga akan mengganggu proses belajar.  Kecemasan yang berhubungan dengan masalah sekolah dapat menimbulkan lingkaran setan dimana didalamnya rasa khawatir yang terus meningkat akan menyebabkan menurunnya pencapaian akademis.
  3. Depresi. Isolasi sosial dan rendahnya rasa percaya diri menimbulkan rasa perasaan tidak berdaya pada sebagian anak yang kelebihan berat.  Bila anak-anak kehilangan harapan bahwa hidup mereka akan menjadi lebih baik, pada akhirnya mereka akan mengalami depresi.  Seorang anak yang mengalami depresi akan kehilangan rasa tertarik pada aktivitas normal, lebih banyak tidur dari biasanya atau seringkali menangis. Pada beberapa anak yang mengalami depresi, mereka dapat menyembunyikan kesedihan mereka sehingga emosi mereka justru kelihatan datar saja. Bagaimanapun, depresi adalah masalah yang serius baik pada anak-anak maupun pada orang dewasa.

 

UPAYA PENCEGAHAN OBESITAS PADA ANAK

Usaha pencegahan dimulai dari lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat dan fasilitas pelayanan kesehatan. Lingkungan sekolah merupakan tempat yang baik untuk pendidikan kesehatan yang dapat memberikan pengetahuan, keterampilan serta dukungan sosial dari warga sekolah. Pengetahuan, keterampilan serta dukungan sosial ini memberikan perubahan perilaku makan sehat yang dapat diterapkan dalam jangka waktu lama. Tujuan pencegahan ini adalah terjadinya perubahan pola dan perilaku makan meliputi meningkatkan kebiasaan konsumsi buah dan sayur, mengurangi konsumsi makanan dan minuman manis, mengurangi konsumsi makanan tinggi energi dan lemak, mengurangi konsumsi junk food, serta peningkatan aktivitas fisik dan mengurangi sedentary life style. 

Pola hidup sehat cegah kegemukan yang sangat disarankan bagi anak-anak

  1. Konsumsi buah dan sayur ≥ 5 porsi per hari
  2. Membatasi menonton TV, bermain komputer, game/ playstation < 2 jam/hari
  3. Tidak menyediakan TV di kamar anak
  4. Mengurangi makanan dan minuman manis
  5. Mengurangi makanan berlemak dan gorengan
  6. Kurangi makan  diluar
  7. Biasakan makan pagi dan membawa makanan bekal ke sekolah
  8. Biasakan makan bersama keluarga minimal 1 x sehari
  9. Makanlah makanan sesuai dengan waktunya
  10. Tingkatkan aktivitas fisik minimal 1 jam/hari
  11. Melibatkan keluarga untuk perbaikan gaya hidup untuk pencegahan gizi lebih Target penurunan BB yang sehat

 

Rekomendasi aktivitas fisik pada anak untuk mencegah kegemukan:

  1. Aktivitas fisik di sekolah dilakukan melalui kurikulum penjasorkes (intra maupun ekstrakurikuler) 3-4 jam dalam seminggu dan memanfaatkan waktu istirahat dengan bermain di halaman sekolah.
  2. Aktivitas fisik di rumah dilakukan bersama keluarga dan teman bermain.
  3. Latihan fisik terprogram dilakukan secara bertahap, terukur dan teratur sesuai dengan kebutuhan.
  4. Latihan fisik untuk melatih kemampuan gerak dasar, fleksibilitas, kekuatan otot dan keseimbangan.
  5. Olahraga dalam kelompok untuk meningkatkan keterampilan teknik dan strategi.

 

Pola konsumsi yang sehat dan aktivitas olah raga yang cukup akan sangat membantu mencegah anak menjadi obesitas. Terhidarnya akan dari obesitas sudah barang tentu akan mengurangi kemungkinan anak akan terkena penyakit yang begitu beragam dari sejak kecil, remaja, dewasa dan di hari tuannya nanti.

Pembatasan yang dilakukan pada pola makan bukan untuk melakukan pembatasan tetapi mencoba untuk meberikan batasan konsumsi pada batas kecukupan yang wajar. Bahkan jauh sebelum adanya teori obesitas. Rasulullah shallallahi ‘alaihi wa sallam bersabda,

Tidaklah anak Adam memenuhi wadah yang lebih buruk dari perut. Cukuplah bagi anak Adam memakan beberapa suapan untuk menegakkan punggungnya. Namun jika ia harus (melebihinya), hendaknya sepertiga perutnya (diisi) untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk bernafas”.

Dan dalam Al Quran Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orangorang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31)

Kalau dalam hal kelebihan berat badan membuat anak-anak kita nantinya menjadi lemah dan berpotensi memiliki penyakit yang berbahaya bagi dirinya sendiri sudah sebaiknya  dari awal, sejak anak-anak masih kecil kita sebagai orang tua mengajari / mendidik anak-anak kita menjadi anak yang kuat dan tidak lemah.

Allah SWT berfirman: “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang meninggalkan anak cucu dibelakangnya dalam keadaan lemah*), yang mereka khawatir terhadap kesejahteraan mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS. An-Nisa: 9).

*) dalam hal ini salah satunya adalah lemah fisiknya.

Wallahu’alam bish showab

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *