Nasihat HAMKA dalam Menuntut Ilmu (1)

Al-Multazam 2 – Ilmu berasal dari bahasa arab ‘ilmun, masdar dari ‘alima-ya’lamu yang artinya mengetahui. Dalam Islam ilmu memiliki tempat istimewa dengan banyak asal katanya disebut dalam al-Quran. Banyak ayat al-Quran memandang orang berilmu tinggi dan mulia. Begitupun Rasulullah banyak menekankan umatnya untuk terus menuntut ilmu, bahkan mewajibkannya. “Mencari ilmu adalah wajib bagi setiap muslim laki-laki maupun muslim perempuan” (HR. Ibnu Abdil Bar).

Qaul ulama hingga pepatah tentang keutamaan ilmu bertaburan dimana-mana. Quote sengaja dibuat instagramable lebih mudah dicerna otak kita, dengan harapan orang semakin cinta dan hasrat menuntut ilmu. Namun, banyaknya fadhilah tentang menuntut ilmu, maka banyak pula tantangan dan ujiannya. Kita akan dibenturkan dengan problematika menuntut ilmu sebelum bertemu dengan realita masalah yang perlu dipecahkan oleh ilmu yang kita tuntut.

“Jangan lalai menuntut ilmu, karena diri merasa kaya atau mampu atau berkedudukan tinggi. Karena bertambah tinggi kedudukan bertambah banyak persoalan yang dihadapi, dan bertambah pentinglah ilmu”. (Prof. Dr. HAMKA, Lembaga Hidup, hlm. 284)

Persoalan yang dihadapi manusia melahirkan teori-teori penyelesaiannya. Sedangkan, dunia terus tumbuh berkembang bersamaan dengan sebab persoalan itu sendiri. Akan ada masanya teori seorang ilmuwan itu usang dan perlu upgrade untuk menangani persoalan yang ada. Merasa puas dengan ilmu tidak menyelesaikan masalah, tapi memperkeruh keadaan.

Kedudukan tinggi, merasa kaya tidak boleh melunturkan semangat menuntut ilmu, karena masalah baru yang tidak tuntas dengan teori usang akan terus berdatangan. Jika diam, kegagalan demi kegagalan pun akan terus terulang. Sehingga menuntut ilmu, semakin kita merasa pintar akan membuat kita terlihat bodoh, semakin kita merasa kaya akan membuat kita miskin, semakin kita berkedudukan tinggi akan membuat kita rendah.

Mengapa? Karena teori-teori yang membuat kita pintar, kaya dan berkedudukan itu akan kedaluwarsa. Menuntut ilmu tidak boleh terhenti karena merasa diri tua. Tidak pula lengah karena merasa masih muda, terlalu luang masa hidup. Seorang tua pernah menuntut ilmu, lalu ia berhenti darinya maka ia tidak mendapatkan rahasia daripada ilmu itu. Seorang tua lebih pandai mengambil hikmah, sehingga ilmu seluruhnya adalah terapan. Nilai inilah yang perlu diterapkan penuntut ilmu, anak muda khususnya.

Kata Hamka, “Jangan terhalang menuntut ilmu karena merasa diri telah tua. Karena kalau dia telah insyaf, akan lebih banyaklah seorang tua yang berpengalaman mendapat ilmu daripada anak-anak yang hanya mendapat ilmu karena untuk dihafal. Ilmu yang dipelajari di waktu kecil, dihafal dan diperhatikan sungguh-sungguh barulah diketahui rahasianya dengan yakin setelah umur tua”. (Prof. Dr. HAMKA, Lembaga Hidup, hlm. 284)

Pengalaman dan ilmu tidak saling tuduh, saling tindih sebab keduanya harus beriringan. Seorang tua berpengalaman, ia menjalani roda kehidupan dengan pengalaman itu tapi tidak akan lama, hanya sebentar. Karena faktanya kehidupan kita terus berubah, berkembang. Itulah kenapa Anis Matta berpesan agar tidak pernah bosan menuntut ilmu, karena teori yang dipelajari di sekolah itu hasil dari sikap dan empiris atas permasalahan pada masa pembuat teori. Sehingga, saat zaman berubah teoripun berubah dan kita harus menemukannya. Wallahua’lam bisshowab.

Penulis : Azhar Fakhru Rijal, S.Pd. (Kanit OSMA Al-Multazam 2)

Editor : Media AM 2 (RA)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *