Hari Pertama Mencari Yang Hilang Dalam Keluarga

HARI PERTAMA MENCARI YANG HILANG DALAM KELUARGA

Ayah bunda memiliki keturunan dambaan dari sebuah pernikahan, memiliki anak-anak yang sholih sebuah  harapan, dan pastinya ayah bunda menginginkan anak-anak yang kita sayangi dan kita cintai lebih baik dari kita sebagai orang tuanya, menjadi waladun sholih, mendo’akan kita, investasi pahala, dan bahkan menjadi penyelamat di akherat kelak.

Namun, faktanya kadang tidak sesuai dengan keinginan. Tantangan mendidik anak begitu luar biasa di zaman modern ini ada anak yang ngeyel susah di atur, malas, emosinya labil, bolos sekolah,tawuran, kecanduan game,kecanduan handphone, pergaulan bebas, narkoba, geng motor dan masih banyak kenakalan lainnya. Naudzubillah… Semoga Allah melindungi anak-anak kita, Allah hujamkan tauhid kepada hati-hati mereka sebagai benteng dari kemaksiatan dan memiliki kecintaan kepada Baginda Rosulullah SAW sebaik-baik teladan kehidupan.

Agar anak-anak kita terhindar dari hal di atas, daripada    Ayah Bunda saling menyalahkan dan melempar tanggung jawab, yuk… kita cek Ayah Bunda sudahkah kita menjadi orang tua yang baik? menjadi teladan? Memberikan rizki yang halal kepada mereka?Mencintai mereka karena Allah SWT? Jangan-jangan ketika anak-anak kita bermasalah sesungguhnya kita orang tuanya yang bermasalah?

Karena pada hakikatnya anak-anak Allah ciptakan ke muka bumi dalam keadaan Fitrah

“Setiap manusia yang lahir, mereka lahir dalam keadaan fitrah. Orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi atau Nasrani”.

(HR. Bukhari-Muslim)

Saya teringat sebuah cerita ada sebuah keluarga yang memiliki tiga orang putra yang masih kecil anak pertama usia 5 tahun, anak kedua 3 tahun, dan anak ketiga 2 tahun kemudian ditinggal begitu saja oleh ayah tanpa ada kabar selama berpuluh-puluh tahun meninggalkannya tidak memberian kasih sayang dan tidak memberikan nafkah keluarga.

 Hal yang paling menyedihkan saat anak-anak itu di olok-olok, di hina Bapak kamu kabur…Bapak kamu kabur.  Tidak punya Bapak sedih rasanya hati mereka ini kemudian saat paling menyedihkan ketika melihat saudara-saudara yang lengkap dengan keluarganya diberikan kasih sayang secara untuh di peluk, di cium, di sayang oleh kedua orang tuanya tak terasa menjerit batin ini dan mencucurkan air mata.

Menurut Ayah Bunda dari cerita di atas ketika keluarga tidak harmonis kira-kira anak-anak tersebut agar tumbuh berkembang dengan baik atau sebaliknya?

Saya teringat tulisan ini semoga menjadi renungan untuk Ayah Bunda

ANAK BELAJAR DARI KEHIDUPANNYA

“Jika anak dibesarkan dengan celaan, dia belajar memaki.

Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, dia belajar berkelahi.

Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, dia belajar rendah diri.

Jika anak dibesarkan dengan hinaan, dia belajar menyesali diri.

Jika anak dibesarkan dengan toleransi, dia menahan diri.

Jika anak dibesarkan dengan pujian, dia belajar menghargai.

Jika anak dibesarkan dengan dorongan, dia belajar percaya diri.

Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan, dia belajar keadilan.

Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, dia belajar menaruh kepercayaan.

Jika anak dibesarkan dengan dukungan, dia belajar menyenangi dirinya.

Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, dia belajar menemukan cinta dalam kehidupan”.

Dorothy Lawa Nolte, Ph.D

Semoga anak-anak kita tercinta menjadi  anak yang sholih menjadi kebanggan orang tua, mendo’akan kita ketika sudah tiada, dan menjadi penyelamat dari api neraka…Aamiin…Aamiin.

Wallahu A’lam bishowab

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *