Bersama Membina Mujahid/Mujahidah Muda

Bersama Membina Mujahid/Mujahidah Muda

Membina artinya membangun; mendirikan; mengusahakan, supaya lebih baik (maju, sempurna dsb.) (KBBI, 2002: 152). Jika melihat arti dari kata ‘membina’ dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia tersebut, itu artinya ‘membina’ merupakan sebuah kata kerja atau pekerjaan mulia yang harus dilakukan oleh para pembina. Hal ini tentunya akan berdampak pada hasil capaian yang diharapkan dari
‘binaan’ atau yang dibina, yaitu menjadikan mereka jauh lebih baik bahkan hingga mencapai kata sempurna. Memang semua itu tidaklah mudah dilakukan dan segampang membalikan telapak tangan, butuh pengorbanan serta perjuangan luar biasa dari para pembina, baik pengorbanan waktu, materi maupun mental.

Lalu sebenarnya siapakah yang dimaksud pembina? Yakni pembangun yang diberi kemampuan lebih dalam hal ini ilmu pengetahuan untuk dapat diajarkan pada ‘binaannya’. Sebenarnya bukan hanya ilmu pengetahuan saja yang harus dimiliki oleh para pembina, melainkan lebih dari itu tentang bagaimana cara, strategi dan metode dalam mentransfer atau mengajarkan ilmu pengetahuan kepada para ‘binaan’. Seorang guru dan murobiyah, itulah salah satu pembina, pembangun yang diamanahi untuk mendidik dan membimbing peserta didik atau para ‘binaan’ menuju jauh lebih baik bahkan mencapai sempurna. Tentunya mendidik dibarengi dengan memahami karakter diantara mereka. Jika sudah memahami karakter ‘binaan’ kita, maka para pembina akan mudah masuk di dunia mereka sehingga apa yang disampaikan akan ‘ngena’ bahkan diterima dengan baik. Belum lagi ditambah dengan kata ‘mengusahakan’, itu artinya sekuat tenaga dan kemampuan yang dimiliki setiap para pembina untuk terus berusaha menjadikan ‘binaan’ atau yang dibina menjadi baik serta maju dalam hal apa pun, baik maju di dunia maupun di akhirat.

Membina bukan hanya sekadar mentransfer ilmu, bukan pula hanya sekadar membagi pengetahuan, atau bahkan bagi pemberi ilmu hanya sekadar menggugurkan amanah dan kewajiban, setelah itu ya…sudah, melainkan lebih dari itu mentransfer ilmu pengetahuan harus tetap dibarengi dengan hati, cinta, kasih sayang, dan rasa ikhlas yang mendalam. Jika hal tersebut dilakukan dan sudah tertanam dalam diri para pembangun/pembina, maka itu akan dijadikan amal ibadah, pahala di sisi Allah Swt. Ilmu yang diamalkan dengan hati, hasilnya pun akan diterima oleh hati dan pikiran jernih. Punya ilmu tanpa diamalkan hanya kehampaan dan ketidakbermanfaatan yang ada, begitu pun sebaliknya “Amal tanpa ilmu bagaikan pohon tanpa buah”, mengutip pribahasa yang dikatakan ustad Adin Nurhaedin, Lc. ketika mengisi dauroh murobi, Sabtu, 14 September 2019.

15/9/2019*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *